Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus

Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)
Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)

Judul ini saya ambil dari quote bijak Kang Arief Setiabudi dalam sebuah perbincangan ringan di serambi rumahnya, di bilangan Kota Bekasi. Sebuah pilihan sulit, terlebih bagi masyarakat yang hidup di tengah gemerlap kemudahan dan rayuan produk manufaktur impor yang terpapang di gerai pamer toko dan pasar.

Kunjungan ini bukan acara yang terencana, saya unggah status di WAG Gerakan Desa Membangun, sedang berada di stasiun Bekasi. Lalu, dengan serta merta, Kang Arief menawarkan diri untuk menjemput. Dia siapkan “halicopter” sehingga mampu tembus kepadatan lalu-lintas Bekasi dalam waktu 5 menit.

Arief Setyabudi sendiri memiliki jam terbang cukup panjang dalam dunia pengembangan teknologi tepat guna, biasa disingkat TTG. Dia dan Sutardjo PS menjadi partner setia dalam pendirian @Barikade-ID, maklum ide tersebut lahir dari “kegilaan” para teknokrat jalanan yang minim dukungan ruang kerja mewah maupun finansial.

Kembali ke judul, “Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus”, menjadi rangkuman kegelisahan kolektif kita. Indonesia merupakan negara konsumen teknologi terdepan di Asia Tenggara, baik elektronik, otomotif, permesinan, konstruksi, komputer, peralatan rumah tangga, hingga permainan anak. Semua teknologi yang membanjiri negeri ini merupakan produk impor. Bahkan, produk seperti sendok dan garpu didatangkan dari luar negeri.

Lalu, bagaimana nasib rekayasa teknologi dan produk turunan asli Indonesia. Sepertinya semua kalangan sepakat untuk memberi satu jawaban: Suram! Alih-alih mendapat pujian, dunia rekayasa kita justru lebih identik dengan pesimisme, apriori, dan olok-olokan. Singkat cerita, negeri ini terlalu acuh untuk urusan kemandirian rekayasa teknologi.

Pada 1990-an, BJ Habibie pernah menjadi simbol kejayaan dunia teknokrasi di Indonesia dengan Projek Nurtanio yang memproduksi pesawat terbang. Namun, sejak N250 gagal terbang, projek itu justru menjadi objek olok-olokan publik. Pada medio 2012, publik dikejutkan dengan mobil Esemka, produk otomotif hasil rekayasa remaja ingusan yang menimba ilmu di SMK. Sayang, produk ini gagal lolos uji emisi sehingga tak kelayakan jalan. Tak butuh waktu lama, projek ini segera gulung tikar.

Dari dua contoh di atas, ungkapan Kang Arief ada benarnya. Kita tak perlu memaksakan diri untuk mengejar kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknologi jelas penting, tapi kita butuh effort yang sangat mewah. Fondasinya juga sangat rapuh. Sudah jadi rahasia umum, bila dua teknologi di atas didominasi level asembling dibanding memproduksi engine vital. Jadi, sejatinya kemandirian teknologi lebih bersifat setengah hati. Abal-abal.

Bagi Arief, kita tak perlu malu memulai kemandirian teknologi dari level yang paling purba. Kita dapat memulai dengan mengubah baja rongsokan menjadi ember, mengubah sampah plastik menjadi piring plastik, atau mengubah baja menjadi sendok makan. Di tingkat itu, kemandirian teknologi dapat terbangun secara kuat. Toh, hampir semua negara yang kini disebut maju juga pernah melalui fase ini, mulai dari pengecoran logam, tempa, maupun cetak-mencetak.

“Kebutuhan akan sendok sendiri tak pernah lekang oleh zaman. Setiap generasi butuhkan sendok!” sergah Arief pada obrolan singkat pagi itu.

@barikade-ID merupakan akronim dari Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa. Bisa juga Barikade dibikin akronim pendukung untuk menunjukkan identitas para pegiatnya, yaitu Barisan Rekayasawan Industri Skala Desa. Barikade menjadi mimpi bersama para teknokrat jalanan untuk membangun kemandirian teknologi di Indonesia.

“Bisa jadi, kita dapat mulai dari gerakan ini membuat Sendok!” aku mulai bekelakar. Ups!

 

Penulis: Yossy Suparyo

Warga Desa Gentasari, Kroya, Cilacap. Mendalami dunia rekayasawan sejak menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Mesin-STMN Wates Kulonprogo. Lalu melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Mesin-Universitas Negeri Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *