Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus

Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)
Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)

Judul ini saya ambil dari quote bijak Kang Arief Setiabudi dalam sebuah perbincangan ringan di serambi rumahnya, di bilangan Kota Bekasi. Sebuah pilihan sulit, terlebih bagi masyarakat yang hidup di tengah gemerlap kemudahan dan rayuan produk manufaktur impor yang terpapang di gerai pamer toko dan pasar. Lanjutkan membaca “Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus”

Manajemen Teknologi, Teknologi Rekayasa, dan Teknologi Tepat Guna

2016-04-12 04.35.26

Saat di bangku kuliah, ada mata kuliah wajib yang harus diambil oleh mahasiswa Teknik Sipil, yaitu Manajemen Teknologi. Salah satu pokok bahasan yang dikaji dalam mata kuliah itu adalah inovasi. Lanjutkan membaca “Manajemen Teknologi, Teknologi Rekayasa, dan Teknologi Tepat Guna”

Alat Sterilisasi Susu Tanpa Proses Panas

image

Teknologi sederhana ini sangat dibutuhkan oleh para masyarakat perdesaan, terutama mereka yang membudidayakan ternak produsen susu, seperti kambing, kerbau, kuda, dan sapi.  Persoalan yang sering dihadapi peternak dalam mengolah produk susu berupa kerusakan produk akibat tidak memperhatikan faktor suhu dalam proses pengolahan. Lanjutkan membaca “Alat Sterilisasi Susu Tanpa Proses Panas”

Gagal Paham Transformasi Teknologi Desa

Sejak masa Orde Baru mendorong teknologi ke desa seolah harus berwujud dan mengarah industrialisasi model kota. Alhasil banyak bantuan peralatan dengan sebutan teknologi tepat guna menjadi mangkrak dan tak bermanfaat bagi penerima manfaatnya. Kenapa hal itu terjadi? Lanjutkan membaca “Gagal Paham Transformasi Teknologi Desa”

Barikade Lahir Jawab Kebutuhan Rekayasa Industri Skala Desa

gambar kerja mesin perontok padi untuk pertanian

Inovasi teknologi dapat mendongkrak daya saing masyarakat desa. Inovasi membuat pelaku ekonomi perdesaan semakin produktif, sekaligus menekan biaya produksi. Mutu produk semakin baik dan terjamin. Mereka dapat memutus ketergantungan dukungan alat pada industri berskala besar.

Di bidang agroindustri misalnya, inovasi teknologi dibutuhkan oleh para pelaku bisnis, khususnya di bidang pengolahan pangan dan pertanian. Sebagian besar bahan baku masih dipasok dari wilayah perdesaan. Kondisi ini menjadi modal dasar pengembangan industri skala desa.

Peran para rekayasawan sangat menentukan dalam mengembangan inovasi teknologi. Universitas, politeknik, maupun sekolah kejuruan sebaiknya membuka kerjasama dengan para pelaku ekonomi perdesaan supaya rekayasa teknologi yang mereka lakukan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kerjasama itu akan mempersempit kesenjangan antara inovator/rekayasawan dan kebutuhan pelaku bisnis perdesaan.

Selain itu, desa dapat mengembangkan potensi warganya yang bergerak di dunia bengkel maupun permesinan. Ide itu melahirkan Barikade atau Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa. Gerakan ini menghimpun para praktisi dan rekayasawan, baik dari dunia kampus maupun praktisi “jalanan” untuk berkolaborasi menjawab kebutuhan alat/mesin produksi.

Univesitas, Politeknik maupun sekolah memiliki bengkel yang dapat dimanfaatkan untuk berkreasi, ujicoba, termasuk produksi alat atau mesin yang menunjang dunia usaha. Apabila kerjasama itu berlangsung maka kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan besar, baik dari segi pengembangan keilmuan, ilmu terapan, maupun secara ekonomi.

Gerakan Desa Membangun (GDM) menjadi rumah besar bagi ide kreatif tersebut untuk pemberdayaan masyarakat desa.