Program Pengembangan Inkubator Wirausaha Desa

Konsep dasar dari pembentukan inkubator bisnis adalah berorientasi teknologi atau non teknologi, dengan lokasi di daerah perkotaan ataupun di pedesaan, mencari untung ataupun tidak, milik masyarakat ataupun swasta, berdiri sendiri ataupun merupakan bagian dari suatu
mata rantai tertentu semua itu ditujukan untuk meningkatkan bakat/jiwa kewirausahaan.

Pekan yang lalu, Yayasan Gedhe Nusantara (Gedhe Foundation) juga berkesempatan mendukung Program Inkubator Bisnis di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Program ini memberi pengembangan kapasitas pada para pelaku bisnis di perdesaan untuk mendalami dunia bisnis.

Program Inkubator Bisnis meliputi dukungan pengetahuan dan keterampilan akan membuat pelaku bisnis mampu bertahan, sekaligus mengembangkan usahanya lebih baik lagi di masa mendatang.

Direktur Gedhe Foundation, Yossy Suparyo, mengatakan tantangan terbesar saat seseorang memulai bisnis adalah menyusun strategi jitu untuk mampu bersaing dengan produk dan layanan sejenis.

“Tantangan pertama itu bertahan hidup, setelah itu mereka menyusun strategi untuk mendapatkan posisi yang bagus dalam persaingan usaha. Program inkubator bisnis memastikan para pelaku bisnis mampu melampaui tantangan pertama,” ujarnya.

TUJUAN DIDIRIKAN INKUBATOR BISNIS

  1. Menurunkan angka kematian bisnis dan meningkatkan jumlah bisnis baru
  2. Menyiapkan bisnis secara terpadu, sebelum bersaing di pasar bebas.
  3. Mengembangkan usaha dan mempengaruhi serta menumbuhkan budaya wirausaha
  4. Memperluas lapangan kerja, menyerap tenaga terdidik, menambah omzet usaha sehingga akan meningkatkan perputaran uang serta mengembangkan ekonomi suatu wilayah
  5. Menumbuhkan adanya inovasi baru
  6. Menumbuhkan iklim yang interaktif antar sesama bisnis

Secara sederhana, inkubator bisnis dapat dikatakan sebagai suatu tempat yang menyediakan fasilitas bagi percepatan penumbuhan wirausaha melalui sarana dan prasarana yang dimiliki sesuai dengan dasar
Kompetensinya. Dengan memanfaatkan fasilitas dan layanan yang disediakan oleh inkubator, para
pengguna jasa (tenant) dapat memperbaiki sisi-sisi lemah dari aspek-aspek wirausaha.

Strategi dan Teknik Menyampaikan Materi Pelatihan

PENGANTAR

Sebuah pelatihan berjalan sukses bilamana salah satu faktornya adalah ternilai dari kemampuan seorang trainer dalam menyampaikan sebuah materi. Dengan metode penyampaian materi yang menarik, unik dan tepat sasaran diharapkan peserta pelatihan dapat menangkap maksud dan tujuan dari apa yang disampaikan oleh trainer. Pada sebuah pelatihan faktor penyampaian materi menjadi satu hal yang sangat penting bagi keberhasilan peserta latih dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari sebuah pelatihan.

Pelatihan yang diselenggarakan untuk mendukung progam di institusi K/L diharapkan juga mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini karena peserta pelatihan nantinya akan menjadi seorang fasilitator yang bertugas memfasilitasi dan mendampingi kelompok sasaran program sesuai dengan visi misi dan tata nilai pada sebuah K/L tersebut.

Berikut beberapa hal-hal yang bisa menjadi panduan kita bersama sebelum masuk dalam strategi penyampaian materi, seorang trainer diharapkan bisa memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Memiliki rasa humor. Humor adalah salah satu cara untuk membuat peserta tertarik untuk terus mengikuti jalannya pelatihan. Tanpa humor, dapat dibayangkan betapa garingnya sebuah training berjalan. Buat peserta tertawa dengan candaan sehat yang edukatif.
  2. Penguasaan materi. Ini adalah hal vital yang sangat penting untuk dimiliki seorang trainer. Tak hanya menguasai materinya, seorang trainer juga harus menguasai cara menyampaikan materi tersebut dengan baik. Pilihlah metode atau gaya yang sekiranya dapat diterima oleh audiens atau peserta. Perbanyaklah referensi yang kuat dan kuasai slide yang akan ditampilkan.
  3. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Jangan menggunakan istilah golongan tertentu. Kita tidak boleh lupa dengan identitas peserta secara umum. Jika memang diadakan di sebuah kelompok masyarakat tertentu, misalnya di kelompok sasaran yang berada di pelosok desa, maka istilah lama menyelesaikan masalah tanpa masalah boleh digunakan.
  4. Hadapi peserta dengan luwes, tidak kaku atau ‘nervous’. Saat hal ini terjadi, seorang trainer dapat lupa dengan semua hal yang ingin dia sampaikan dan selanjutnya training tidak akan berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Kadangkala seorang trainer dapat menyiapkan sebuah catatan kecil agar selama training ia dapat menyampaikan materi lebih sistematis dan terstruktur.
  5. Berikan waktu yang cukup bagi peserta untuk berpikir dan menjawab. Buatlah waktu belajar fleksibel dengan kebutuhan peserta. Jangan lupa, semua materi yang disampaikan haruslah memiliki kesinambungan satu sama lain agar tujuan yang ingin dicapai dapat terealisasi dengan baik.
  6. Perhatikan kondisi diri sendiri. Saat seorang trainer merasa bosan, biasanya peserta juga memiliki perasaan yang sama. Saat hal ini terjadi, coba lakukan beberapa permainan singkat yang dapat menggugah kembali semangat peserta.
  7. Perhatikan bahasa tubuh peserta. Tidak perlu menanyakan “apakah anda bosan dengan training ini?” atau ”apakah anda mengantuk?”. Saat melihat bahasa tubuh peserta yang tampak bosan atau mengantuk atau apapun yang kurang kondusif, segera lakukan beberapa permainan ringan. Buat peserta bergerak dan atau berteriak.
  8. Bersedia bekerja lebih lama dari waktu yang direncanakan. Seorang trainer lebih baik datang ke venue lebih awal untuk menguasai lokasi terlebih dahulu. Pengetahuan menyeluruh tentang lokasi dimana kita mengisi training merupakan salah satu poin penting yang membuat peserta merasa bahwa mereka hadir dalam ‘rumah’ si-trainer dan tentu saja hal ini dapat memunculkan perasaan yang lebih dalam di hati peserta.
  9. Siap berdiri sepanjang hari. Meski beberapa trainer disiapkan kursi, seringkali mereka tidak duduk agar gaya penyampaiannya lebih leluasa. Selain itu, meski dalam kondisi kurang fit, seorang trainer yang sedang mengadakan training haruslah berusaha menampilkan yang terbaik. Selama ia masih mampu, maka the show must go on!!!
  10. Siap menghadapi segala kejadian yang tidak terduga. Terkadang, materi yang sudah disusun sedemikian rupa harus diganti secara mendadak untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta. Karena itulah, khazanah seorang trainer haruslah luas agar di momen tertentu, materi yang hendak disampaikan bisa segera ditambal dengan materi lain yang sekiranya sesuai.
  11. Siap memberi tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Bekerjalah yang tulus dengan niat yang lurus pula. Tak jarang seorang trainer harus rela melepas waktu istirahat dan makan siangnya untuk mendengarkan keluh kesah peserta. Bagaimanapun, di mata peserta, seorang trainer dianggap sebagai penyembuh dan kadang peserta melupakan bahwa seorang trainer juga memiliki kebutuhan mereka sendiri.
  12. Siap menjadi teladan sepanjang waktu. Ibarat seorang guru yang kemana-mana akan terus dinilai, begitupula dengan seorang trainer. Ia akan kehilangan kredibilitas manakala dianggap tidak sempurna dalam memberikan contoh dari apa yang diajarkannya. Jika salah, akui salah dan luruskan. Seorang trainer tidak bisa membiarkan peserta mendapat informasi yang salah dari dirinya.
  13. Siap mengatasi masalah logistik. Meski sudah ada bidangnya, sebisa mungkin kita tetap harus mengetahui seluk beluk training model bahkan sampai hal terkecil.
  14. Mampu mendorong peserta training agar kelak mengaplikasikan materi yang telah ia sampaikan dan berkomitmen dalam menjalankannya. Selain menjadi nilai manfaat bagi peserta. Secara tidak langsung peserta juga sudah melakukan promosi training. Agar hal ini terjadi, seorang trainer harus memberikan anjuran yang menggugah dan memikat bagi peserta.
  15. Mampu mengatasi kegagalan sebuah training. Tidak semua training berjalan mulus. Maka, saat yang terjadi adalah hal yang tidak diharapkan, seorang trainer harus mampu menganalisis ketidakberhasilan itu dan mencoba merencanakan sesuatu yang baru sebagai solusi.

STRATEGI PENYAMPAIAN MATERI PELATIHAN
Setelah mengetahui syarat untuk menjadi trainer yang handal, maka langkah berikutnya bagi seorang trainer adalah mengetahui dan memahami strategi penyampaian materi. Hal ini penting agar tidak terjadi “jet lag” yaitu istilah bagi trainer yang kehilangan orientasi pada saat memberikan materi. Adapun strategi penyampaian materi yang bisa diterapkan pada setiap pelatihan adalah sebagai berikut:

  1. Strategi urutan penyampaian simultan
    Jika trainer harus menyampaikan lebih dari satu materi pelatihan, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, kemudian diperdalam satu demi satu (metode global).
  1. Strategi urutan penyampaian suksesif
    Jika trainer harus menyampaikan materi pelatihan lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula.

SRATEGI MENYAMPAIKAN MATERI MENURUT JENIS MATERINYA
Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan sangat bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan strategi yang dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal. Pengembangannya, diserahkan pada kreativitas trainer untuk mendapatkan hasil pelatihan yang berkualitas, terarah dan terukur.

  1. Strategi Penyampaian Fakta
    Jika trainer harus menyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb). Langkah-langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis “Fakta”, sebagai berikut:
    (a) Sajikan fakta
    (b) Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal
    (c)  Berikan soal-soal mengingat kembali (review)
    (d) Berikan umpan balik
    (e) Berikan tes.
  1. Strategi penyampaian konsep
    Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta pelatihan paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan jenis  ”Konsep” adalah sebagai berikut:
    (a) Sajikan Konsep
    (b) Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh)(c)  Berikan soal-soal latihan dan tugas
    (d) Berikan umpan balik
    (e) Berikan tes.
  1. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip
    Termasuk materi pelatihan  jenis prinsip adalah dalil, hukum (law),postulat, teorema, dsb. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis “prinsip”, yakni:
    (a) Berikan prinsip
    (b) Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip
    (c) Berikan umpan balik
    (d) Berikan tes.
  1. Strategi Penyampaian Prosedur
    Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta pealtihan dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pelatihan  jenis prosedur adalah langkah-langkah membuat proposal, pelaporan atau rekomendasi secara urut. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
  1. menyajikan prosedur
  2. pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana      cara melaksanakan prosedur
  3. memberikan latihan (praktik)
  4. memberikan umpanbalik
  5. memberikan tes.
  1. Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif)
    Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:  penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, dan perubahan pola pikir.

Referensi :
Strategi & Teknik Menyampaikan Materi Pelatihan

Jalan Pedesaan Sebagai Dasar Penyediaan Ruang Publik Yang Nyaman

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, baik yang berada pada permukaan tanah maupun di atas atau di bawah permukaan tanah dan/atau air. Pembangunan jalan sendiri saat inipun belum sepenuhnya merata di seluruh pelosok daerah di indonesia.

Sering dong sekarang ini hampir setiap hari di berbagai media kita dengar keluhan seperti, “Aduh, ini pemerintah kerjaannya ngapain aja sih. Jalan kok sempit-sempit, sering rusak, mana belum diaspal lagi”

Pemerintah memang yang paling berandil besar terhadap kondisi tersebut, tapi jangan lupakan juga bahwa ternyata peran kita sebagai masyarakat tidak kalah penting. Dalam bentuk apa?

Bisa dalam bentuk mendukung keamanan ketika proyek pengerjaan jalan dilakukan, atau kooperatif ketika terjadi pembebasan lahan. Semua memang bisa dinegosiasikan, tapi jangan egois dan memperhatikan kepentingan individu semata.

Trend pembangunan jalan pun terus meningkat, jika sebelum reformasi tercatat jalan yang belum diaspal lebih banyak daripada yang telah diaspal, ternyata kini sudah berubah. Dari data yang diambil dari BPS, ternyata jalan yang diaspal untuk seluruh wilayah Indonesia totalnya sepanjang 295.968 km. Jauh lebih panjang dibandingkan ruas jalan yang belum terkena aspal yaitu 221.695 km.

Namun demikian, data di atas wajib menjadi perhatian kita bersama, agar kondisinya merata di seluruh Indonesia. Coba deh kita lihat fakta di lapangan, kenyataannya jalan yang masih jauh dari syarat layak terkumpul di bagian timur Indonesia, yaitu di daerah kota Jayapura (Provinsi Papua) dan kota Sorong (Provinsi Papua Barat). Bisa dibilang ketidaklayakan jalan inilah yang menjadi biang keladi tingginya harga barang di kawasan bumi cendrawasih.

Jalan Menuju Perdesaan

Nah, sekarang kita ngobrolin kondisi jalan di desa-desa yuk. Sebenarnya siapa sih yang bertanggung jawab dengan pembangunan di desa?

Dari informasi yang diambil dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pembinaannya sebenarnya ada di tangan Bupati. Tapi sekarang dengan adanya dana desa yang dikucurkan pemerintah dari APBN, maka Kepala Desa diperbolehkan mengajukan anggaran yang dimuat dalam APBDes untuk membangun jalan di perdesaan.

Meski penuh dengan pro kontra kehadiran dana desa, efek positifnya cukup terasa. Di beberapa daerah di Jawa, sebut saja ngawi yang minggu lalu saya kunjungi, jalan menuju pedusunannya sudah diperbaiki dengan paving blok.

Jelas belum merata, karena dana desa baru memasuki tahun kedua. Kepala Desa di seluruh Indonesia pun masih berproses dalam cara menggunakannya, prinsipnya sepanjang dana desa digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, sangat diperbolehkan bahkan didukung.

Apabila kita ngomongin masalah infrastruktur jalan yang sangat klasik ini, maka yang pertama disentuh tidak akan jauh-jauh dari manusianya. Bukan hanya perbaikan dari sisi aparat yang memang mutlak dilakukan, tetapi juga dari warga sekitar.

Pemerintah wajib turun hingga ke lapisan masyarakat paling dasar, beri mereka pengertian apa manfaat yang diperoleh jika jalan itu dibangun. Misalnya, bisa menambah penghasilan warga karena dapat berjualan, dan lain sebagainya.

country-lane-2089645_1280

“Tidak semua lokasi bisa menggunakan feasibility study ketika membangun jalan. Kalau itu dilakukan, kasihan daerah-daerah yang tidak feasible”

Sedikit banyak saya setuju dengan peryataan tersebut, karena pada kenyataannya konsep feasibility study akan susah diterapkan di daerah terpencil seperti di desa. Katakanlah di wilayah papua yang saat ini nilai ekonominya rendah. Jika menggunakan feasibility study, ada kemungkinan pembangunan jalan akan mangkrak karena tidak feasible.

Ingat bahwa yang paling utama adalah terpenuhinya pelayanan publik. Sepanjang itu terpenuhi, maka pembangunan di tempat yang tidak feasible secara ekonomi pun seharusnya tidak masalah.

Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan untuk peningkatan berbagai akses kepentingan. Jalan desa seyogyanya bisa mengakomodir sebuah ruang manouver kendaraan saat membelok di tikungan atau persimpangan, sehingga dasar penyediaan ruang publik yang nyaman dan aman bagi kebutuhan masyarakat perdesaan bisa terpenuhi dengan baik.

Barikade Wujudkan Kemandirian Teknologi Lewat Platform Pengetahuan Terbuka

Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa (Barikade) mengusung tradisi berbagi dan pengetahuan terbuka (open knowledge) untuk mewujudkan kemandirian teknologi.

Tradisi berbagi menciptakan metode belajar yang demokratis, tidak ada pihak yang monopoli klaim kebenaran karena proses belajar tercipta secara dialogis. Pengetahuan terbuka memungkinkan siapa saja dapat mengakses sumber belajar, mempelajari, menyebarluaskan, serta melengkapi kelemahan-kelemahan secara kolektif.

Untuk membangun tradisi berbagi, Barikade mempertemukan orang-orang yang memiliki perhatian pada dunia rekayasa dan engineering dalam ruang belajar bersama, sharing pengalaman, mengerjakan projek secara kolektif, dan mempublikasikan karya ilmiah. Strategi itu akan melahirkan tim kerja yang berkarakter terbuka (open mind), mampu bekerjasama, dan melahirkan inovasi teknologi.

 

Gambar Teknik Sebagai Bahasa Para Rekayasawan

gambar teknik sebagai bahasa komunikasi para rekayasawan

Di dunia teknik, gambar merupakan alat untuk menyatakan maksud dari seorang praktisi teknik. Tak heran bilan gambar teknik sering disebut sebagai bahasa para rekayasawan.

Komunikasi antarmanusia bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu lisan, kalimat, dan gambar. Fungsi utama bahasa maupun gambar adalah meneruskan informasi dari sumber ke audien. Sebagai bahasa teknik, gambar teknik harus mampu meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan objektif, baik dalam satu unit produksi maupun antar unit produksi.

Sato (1989:1) menegaskan sebagian besar keterangan dalam gambar teknik berupa lambang-lambang. Layaknya praktik komunikasi lainnya, para juru gambar harus mempertimbangkan target pembacanya saat mengerjakan gambar teknik agar informasi yang dia sampaikan bisa diterima secara jelas.

Gambar teknik memiliki tiga fungsi utama, yaitu (1) penyampaian informasi, (2) pengawetan, penyimpanan, dan penggunaan keterangan, serta (3) cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi.

Penyampaian Informasi

Untuk penyampaian informasi, gambar teknik bertugas meneruskan maksud dari perancang secara tepat kepada pihak terkait, seperti perencanaan proses, pembuatan, pemeriksaan, dan perakitan. Saat ini, pihak-pihak tersebut tak terbatas dalam lingkup satu pabrik, tapi juga menyangkut pabrik subkontrak ataupun orang-orang asing yang memiliki bahasa yang berbeda. Agar penafsiran gambar bisa dilakukan secara objektif maka diperlukan standar-standar sebagai tata bahasa teknik.

Pengawetan, penyimpanan, dan penggunaan keterangan

Gambar merupakan data teknis yang sangat ampuh untuk memadatkan atau mengumpulkan seluruh bentuk ekayasa teknologi suatu perusahaan. Karena itu, gambar acapkali diawetkan dan disimpan untuk keperluan produksi ulang maupun perbaikan. Gambar juga diperlukan sebagai sumber rujukan bagi rencana-rencana baru di kemudian hari. Sistem penyimpanan dan kodifikasi gambar diperlukan untuk keperluan temu kembali informasi. Bahkan, sejumlah pabrik sudah memanfaatkan teknologi mikrochip maupun sistem digital untuk mendukung penyimpanan dan pengarsipan gambar.

Cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi

Dalam kerja-kerja perencanaan, konsep abstrak diwujudkan dalam bentuk gambar. Lalu, konsep abstrak itu dianalisis dan disintesakan dalam bentuk gambar juga. Gambar itu diteliti dan dievaluasi secara berulang-ulang sehingga dapat dihasilkan gambar teknik yang sempurna. Dengan kata lain, gambar tak sekadar melukiskan “gambar” tetapi berfungsi juga sebagai peningkat daya berpikir dalam kerja perencanaan.

Perkembangan gambar teknik sudah sangat pesat. Awalnya, perencana dan pembuat gambar merupakan orang yang sama sehingga gambar banyak difungsikan sebagai alat berpikir atau menuangkan konsep. Pada fase ini aturan-aturan gambar belum diperlukan. Kini,perencana dan pembuat gambar bukan lagi orang yang sama, maka kesepakatan bersama memegang peranan yang penting. Standar-standar yang berupa simbol dan kode mutlak diperlukan untuk memudahkan komunikasi.

Barikade Lahir Jawab Kebutuhan Rekayasa Industri Skala Desa

gambar kerja mesin perontok padi untuk pertanian

Inovasi teknologi dapat mendongkrak daya saing masyarakat desa. Inovasi membuat pelaku ekonomi perdesaan semakin produktif, sekaligus menekan biaya produksi. Mutu produk semakin baik dan terjamin. Mereka dapat memutus ketergantungan dukungan alat pada industri berskala besar.

Di bidang agroindustri misalnya, inovasi teknologi dibutuhkan oleh para pelaku bisnis, khususnya di bidang pengolahan pangan dan pertanian. Sebagian besar bahan baku masih dipasok dari wilayah perdesaan. Kondisi ini menjadi modal dasar pengembangan industri skala desa.

Peran para rekayasawan sangat menentukan dalam mengembangan inovasi teknologi. Universitas, politeknik, maupun sekolah kejuruan sebaiknya membuka kerjasama dengan para pelaku ekonomi perdesaan supaya rekayasa teknologi yang mereka lakukan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kerjasama itu akan mempersempit kesenjangan antara inovator/rekayasawan dan kebutuhan pelaku bisnis perdesaan.

Selain itu, desa dapat mengembangkan potensi warganya yang bergerak di dunia bengkel maupun permesinan. Ide itu melahirkan Barikade atau Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa. Gerakan ini menghimpun para praktisi dan rekayasawan, baik dari dunia kampus maupun praktisi “jalanan” untuk berkolaborasi menjawab kebutuhan alat/mesin produksi.

Univesitas, Politeknik maupun sekolah memiliki bengkel yang dapat dimanfaatkan untuk berkreasi, ujicoba, termasuk produksi alat atau mesin yang menunjang dunia usaha. Apabila kerjasama itu berlangsung maka kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan besar, baik dari segi pengembangan keilmuan, ilmu terapan, maupun secara ekonomi.

Gerakan Desa Membangun (GDM) menjadi rumah besar bagi ide kreatif tersebut untuk pemberdayaan masyarakat desa.