Gerakan Sedekah Pengetahuan

Peranan kaum intelektual dalam pemberdayaan desa sangatlah penting. Ilmu pengetahuan dan teknologi dibutuhkan dalam pengelolaan sumberdaya desa. Karena itu, kita butuh lembaga yang mampu menjembatani hubungan kuat kampus-kampung untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di perdesaan.

Kolaborasi kerja kampus-kampung ada dalam gerakan Barikade (Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa). Gerakan ini dipelopori oleh Empat Sekawan, yaitu Yossy Suparyo (Cilacap), Arief Setyabudi (Bekasi), Sutardjo Ps (Bandung), dan Dodiet Prasetyo (Banyumas). Empat tukang insinyur itu menggerakkan Barikade bermodal sedekah pengetahuan.

Apa itu sedekah pengetahuan? Barikade memulai gerakan sedekah dengan berbagi gagasan dan pengalaman. Barikade mengembangkan media online (http://barikade.desamembangun.id) untuk menyebarluaskan artikel dan hasil kajian. Singkatnya, pengetahuan tak lagi berada dalam benak mereka (tacit knowledge), tapi pengetahuan itu sudah mereka tuangkan dalam pengetahuan yang sistematis (explicit knowledge).

Selain itu, Barikade mendorong proses alih teknologi melalui program pengembangan kapasitas pelaku industri desa. Ambil contoh, mereka melatih para pengelola bengkel las yang tersebar di pojok-pojok kampung agar mampu membaca gambar teknik.Gambar teknik merupakan media komunikasi antara rekayasawan (engineer) dan praktisi manufaktur yang akan memproduksi berbagai teknologi/mesin cukup di desanya.

Belakangan ini, Barikade mulai merambah ada pengorganisasian beragam gagasan dan praktik baik (best practice) pengembangan teknologi tepat guna. Langkah ini bertujuan untuk memobilisasi sumberdaya di kawasan perdesaan. Strategi ini akan mendorong lahirnya industri skala desa, terutama industri yang bergerak pada pengolahan bahan baku. Dengan kata lain, desa akan menjadi penggerak ekonomi di Indonesia.

Kemunculan industri di desa akan memicu efek domino, seperti peningkatan pendapatan, perbaikan pelayanan publik, akses ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat desa. Mari bersedekah pengetahuan!

Ergonomis Pelajari Hubungan Manusia-Mesin untuk Hasilkan Kinerja Optimal

Ilmu ergonomi menjadi mata kuliah wajib dalam studi perancangan mesin. Ergonomi mempelajari informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk menciptakan sistem kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien. Lanjutkan membaca “Ergonomis Pelajari Hubungan Manusia-Mesin untuk Hasilkan Kinerja Optimal”

Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus

Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)
Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)

Judul ini saya ambil dari quote bijak Kang Arief Setiabudi dalam sebuah perbincangan ringan di serambi rumahnya, di bilangan Kota Bekasi. Sebuah pilihan sulit, terlebih bagi masyarakat yang hidup di tengah gemerlap kemudahan dan rayuan produk manufaktur impor yang terpapang di gerai pamer toko dan pasar. Lanjutkan membaca “Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus”

Barikade Wujudkan Kemandirian Teknologi Lewat Platform Pengetahuan Terbuka

Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa (Barikade) mengusung tradisi berbagi dan pengetahuan terbuka (open knowledge) untuk mewujudkan kemandirian teknologi.

Tradisi berbagi menciptakan metode belajar yang demokratis, tidak ada pihak yang monopoli klaim kebenaran karena proses belajar tercipta secara dialogis. Pengetahuan terbuka memungkinkan siapa saja dapat mengakses sumber belajar, mempelajari, menyebarluaskan, serta melengkapi kelemahan-kelemahan secara kolektif.

Untuk membangun tradisi berbagi, Barikade mempertemukan orang-orang yang memiliki perhatian pada dunia rekayasa dan engineering dalam ruang belajar bersama, sharing pengalaman, mengerjakan projek secara kolektif, dan mempublikasikan karya ilmiah. Strategi itu akan melahirkan tim kerja yang berkarakter terbuka (open mind), mampu bekerjasama, dan melahirkan inovasi teknologi.

 

Gambar Teknik Sebagai Bahasa Para Rekayasawan

gambar teknik sebagai bahasa komunikasi para rekayasawan

Di dunia teknik, gambar merupakan alat untuk menyatakan maksud dari seorang praktisi teknik. Tak heran bilan gambar teknik sering disebut sebagai bahasa para rekayasawan.

Komunikasi antarmanusia bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu lisan, kalimat, dan gambar. Fungsi utama bahasa maupun gambar adalah meneruskan informasi dari sumber ke audien. Sebagai bahasa teknik, gambar teknik harus mampu meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan objektif, baik dalam satu unit produksi maupun antar unit produksi.

Sato (1989:1) menegaskan sebagian besar keterangan dalam gambar teknik berupa lambang-lambang. Layaknya praktik komunikasi lainnya, para juru gambar harus mempertimbangkan target pembacanya saat mengerjakan gambar teknik agar informasi yang dia sampaikan bisa diterima secara jelas.

Gambar teknik memiliki tiga fungsi utama, yaitu (1) penyampaian informasi, (2) pengawetan, penyimpanan, dan penggunaan keterangan, serta (3) cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi.

Penyampaian Informasi

Untuk penyampaian informasi, gambar teknik bertugas meneruskan maksud dari perancang secara tepat kepada pihak terkait, seperti perencanaan proses, pembuatan, pemeriksaan, dan perakitan. Saat ini, pihak-pihak tersebut tak terbatas dalam lingkup satu pabrik, tapi juga menyangkut pabrik subkontrak ataupun orang-orang asing yang memiliki bahasa yang berbeda. Agar penafsiran gambar bisa dilakukan secara objektif maka diperlukan standar-standar sebagai tata bahasa teknik.

Pengawetan, penyimpanan, dan penggunaan keterangan

Gambar merupakan data teknis yang sangat ampuh untuk memadatkan atau mengumpulkan seluruh bentuk ekayasa teknologi suatu perusahaan. Karena itu, gambar acapkali diawetkan dan disimpan untuk keperluan produksi ulang maupun perbaikan. Gambar juga diperlukan sebagai sumber rujukan bagi rencana-rencana baru di kemudian hari. Sistem penyimpanan dan kodifikasi gambar diperlukan untuk keperluan temu kembali informasi. Bahkan, sejumlah pabrik sudah memanfaatkan teknologi mikrochip maupun sistem digital untuk mendukung penyimpanan dan pengarsipan gambar.

Cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi

Dalam kerja-kerja perencanaan, konsep abstrak diwujudkan dalam bentuk gambar. Lalu, konsep abstrak itu dianalisis dan disintesakan dalam bentuk gambar juga. Gambar itu diteliti dan dievaluasi secara berulang-ulang sehingga dapat dihasilkan gambar teknik yang sempurna. Dengan kata lain, gambar tak sekadar melukiskan “gambar” tetapi berfungsi juga sebagai peningkat daya berpikir dalam kerja perencanaan.

Perkembangan gambar teknik sudah sangat pesat. Awalnya, perencana dan pembuat gambar merupakan orang yang sama sehingga gambar banyak difungsikan sebagai alat berpikir atau menuangkan konsep. Pada fase ini aturan-aturan gambar belum diperlukan. Kini,perencana dan pembuat gambar bukan lagi orang yang sama, maka kesepakatan bersama memegang peranan yang penting. Standar-standar yang berupa simbol dan kode mutlak diperlukan untuk memudahkan komunikasi.

Barikade Lahir Jawab Kebutuhan Rekayasa Industri Skala Desa

gambar kerja mesin perontok padi untuk pertanian

Inovasi teknologi dapat mendongkrak daya saing masyarakat desa. Inovasi membuat pelaku ekonomi perdesaan semakin produktif, sekaligus menekan biaya produksi. Mutu produk semakin baik dan terjamin. Mereka dapat memutus ketergantungan dukungan alat pada industri berskala besar.

Di bidang agroindustri misalnya, inovasi teknologi dibutuhkan oleh para pelaku bisnis, khususnya di bidang pengolahan pangan dan pertanian. Sebagian besar bahan baku masih dipasok dari wilayah perdesaan. Kondisi ini menjadi modal dasar pengembangan industri skala desa.

Peran para rekayasawan sangat menentukan dalam mengembangan inovasi teknologi. Universitas, politeknik, maupun sekolah kejuruan sebaiknya membuka kerjasama dengan para pelaku ekonomi perdesaan supaya rekayasa teknologi yang mereka lakukan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kerjasama itu akan mempersempit kesenjangan antara inovator/rekayasawan dan kebutuhan pelaku bisnis perdesaan.

Selain itu, desa dapat mengembangkan potensi warganya yang bergerak di dunia bengkel maupun permesinan. Ide itu melahirkan Barikade atau Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa. Gerakan ini menghimpun para praktisi dan rekayasawan, baik dari dunia kampus maupun praktisi “jalanan” untuk berkolaborasi menjawab kebutuhan alat/mesin produksi.

Univesitas, Politeknik maupun sekolah memiliki bengkel yang dapat dimanfaatkan untuk berkreasi, ujicoba, termasuk produksi alat atau mesin yang menunjang dunia usaha. Apabila kerjasama itu berlangsung maka kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan besar, baik dari segi pengembangan keilmuan, ilmu terapan, maupun secara ekonomi.

Gerakan Desa Membangun (GDM) menjadi rumah besar bagi ide kreatif tersebut untuk pemberdayaan masyarakat desa.