Program Pengembangan Inkubator Wirausaha Desa

Konsep dasar dari pembentukan inkubator bisnis adalah berorientasi teknologi atau non teknologi, dengan lokasi di daerah perkotaan ataupun di pedesaan, mencari untung ataupun tidak, milik masyarakat ataupun swasta, berdiri sendiri ataupun merupakan bagian dari suatu
mata rantai tertentu semua itu ditujukan untuk meningkatkan bakat/jiwa kewirausahaan.

Pekan yang lalu, Yayasan Gedhe Nusantara (Gedhe Foundation) juga berkesempatan mendukung Program Inkubator Bisnis di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Program ini memberi pengembangan kapasitas pada para pelaku bisnis di perdesaan untuk mendalami dunia bisnis.

Program Inkubator Bisnis meliputi dukungan pengetahuan dan keterampilan akan membuat pelaku bisnis mampu bertahan, sekaligus mengembangkan usahanya lebih baik lagi di masa mendatang.

Direktur Gedhe Foundation, Yossy Suparyo, mengatakan tantangan terbesar saat seseorang memulai bisnis adalah menyusun strategi jitu untuk mampu bersaing dengan produk dan layanan sejenis.

“Tantangan pertama itu bertahan hidup, setelah itu mereka menyusun strategi untuk mendapatkan posisi yang bagus dalam persaingan usaha. Program inkubator bisnis memastikan para pelaku bisnis mampu melampaui tantangan pertama,” ujarnya.

TUJUAN DIDIRIKAN INKUBATOR BISNIS

  1. Menurunkan angka kematian bisnis dan meningkatkan jumlah bisnis baru
  2. Menyiapkan bisnis secara terpadu, sebelum bersaing di pasar bebas.
  3. Mengembangkan usaha dan mempengaruhi serta menumbuhkan budaya wirausaha
  4. Memperluas lapangan kerja, menyerap tenaga terdidik, menambah omzet usaha sehingga akan meningkatkan perputaran uang serta mengembangkan ekonomi suatu wilayah
  5. Menumbuhkan adanya inovasi baru
  6. Menumbuhkan iklim yang interaktif antar sesama bisnis

Secara sederhana, inkubator bisnis dapat dikatakan sebagai suatu tempat yang menyediakan fasilitas bagi percepatan penumbuhan wirausaha melalui sarana dan prasarana yang dimiliki sesuai dengan dasar
Kompetensinya. Dengan memanfaatkan fasilitas dan layanan yang disediakan oleh inkubator, para
pengguna jasa (tenant) dapat memperbaiki sisi-sisi lemah dari aspek-aspek wirausaha.

Strategi dan Teknik Menyampaikan Materi Pelatihan

PENGANTAR

Sebuah pelatihan berjalan sukses bilamana salah satu faktornya adalah ternilai dari kemampuan seorang trainer dalam menyampaikan sebuah materi. Dengan metode penyampaian materi yang menarik, unik dan tepat sasaran diharapkan peserta pelatihan dapat menangkap maksud dan tujuan dari apa yang disampaikan oleh trainer. Pada sebuah pelatihan faktor penyampaian materi menjadi satu hal yang sangat penting bagi keberhasilan peserta latih dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari sebuah pelatihan.

Pelatihan yang diselenggarakan untuk mendukung progam di institusi K/L diharapkan juga mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini karena peserta pelatihan nantinya akan menjadi seorang fasilitator yang bertugas memfasilitasi dan mendampingi kelompok sasaran program sesuai dengan visi misi dan tata nilai pada sebuah K/L tersebut.

Berikut beberapa hal-hal yang bisa menjadi panduan kita bersama sebelum masuk dalam strategi penyampaian materi, seorang trainer diharapkan bisa memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Memiliki rasa humor. Humor adalah salah satu cara untuk membuat peserta tertarik untuk terus mengikuti jalannya pelatihan. Tanpa humor, dapat dibayangkan betapa garingnya sebuah training berjalan. Buat peserta tertawa dengan candaan sehat yang edukatif.
  2. Penguasaan materi. Ini adalah hal vital yang sangat penting untuk dimiliki seorang trainer. Tak hanya menguasai materinya, seorang trainer juga harus menguasai cara menyampaikan materi tersebut dengan baik. Pilihlah metode atau gaya yang sekiranya dapat diterima oleh audiens atau peserta. Perbanyaklah referensi yang kuat dan kuasai slide yang akan ditampilkan.
  3. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Jangan menggunakan istilah golongan tertentu. Kita tidak boleh lupa dengan identitas peserta secara umum. Jika memang diadakan di sebuah kelompok masyarakat tertentu, misalnya di kelompok sasaran yang berada di pelosok desa, maka istilah lama menyelesaikan masalah tanpa masalah boleh digunakan.
  4. Hadapi peserta dengan luwes, tidak kaku atau ‘nervous’. Saat hal ini terjadi, seorang trainer dapat lupa dengan semua hal yang ingin dia sampaikan dan selanjutnya training tidak akan berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Kadangkala seorang trainer dapat menyiapkan sebuah catatan kecil agar selama training ia dapat menyampaikan materi lebih sistematis dan terstruktur.
  5. Berikan waktu yang cukup bagi peserta untuk berpikir dan menjawab. Buatlah waktu belajar fleksibel dengan kebutuhan peserta. Jangan lupa, semua materi yang disampaikan haruslah memiliki kesinambungan satu sama lain agar tujuan yang ingin dicapai dapat terealisasi dengan baik.
  6. Perhatikan kondisi diri sendiri. Saat seorang trainer merasa bosan, biasanya peserta juga memiliki perasaan yang sama. Saat hal ini terjadi, coba lakukan beberapa permainan singkat yang dapat menggugah kembali semangat peserta.
  7. Perhatikan bahasa tubuh peserta. Tidak perlu menanyakan “apakah anda bosan dengan training ini?” atau ”apakah anda mengantuk?”. Saat melihat bahasa tubuh peserta yang tampak bosan atau mengantuk atau apapun yang kurang kondusif, segera lakukan beberapa permainan ringan. Buat peserta bergerak dan atau berteriak.
  8. Bersedia bekerja lebih lama dari waktu yang direncanakan. Seorang trainer lebih baik datang ke venue lebih awal untuk menguasai lokasi terlebih dahulu. Pengetahuan menyeluruh tentang lokasi dimana kita mengisi training merupakan salah satu poin penting yang membuat peserta merasa bahwa mereka hadir dalam ‘rumah’ si-trainer dan tentu saja hal ini dapat memunculkan perasaan yang lebih dalam di hati peserta.
  9. Siap berdiri sepanjang hari. Meski beberapa trainer disiapkan kursi, seringkali mereka tidak duduk agar gaya penyampaiannya lebih leluasa. Selain itu, meski dalam kondisi kurang fit, seorang trainer yang sedang mengadakan training haruslah berusaha menampilkan yang terbaik. Selama ia masih mampu, maka the show must go on!!!
  10. Siap menghadapi segala kejadian yang tidak terduga. Terkadang, materi yang sudah disusun sedemikian rupa harus diganti secara mendadak untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta. Karena itulah, khazanah seorang trainer haruslah luas agar di momen tertentu, materi yang hendak disampaikan bisa segera ditambal dengan materi lain yang sekiranya sesuai.
  11. Siap memberi tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Bekerjalah yang tulus dengan niat yang lurus pula. Tak jarang seorang trainer harus rela melepas waktu istirahat dan makan siangnya untuk mendengarkan keluh kesah peserta. Bagaimanapun, di mata peserta, seorang trainer dianggap sebagai penyembuh dan kadang peserta melupakan bahwa seorang trainer juga memiliki kebutuhan mereka sendiri.
  12. Siap menjadi teladan sepanjang waktu. Ibarat seorang guru yang kemana-mana akan terus dinilai, begitupula dengan seorang trainer. Ia akan kehilangan kredibilitas manakala dianggap tidak sempurna dalam memberikan contoh dari apa yang diajarkannya. Jika salah, akui salah dan luruskan. Seorang trainer tidak bisa membiarkan peserta mendapat informasi yang salah dari dirinya.
  13. Siap mengatasi masalah logistik. Meski sudah ada bidangnya, sebisa mungkin kita tetap harus mengetahui seluk beluk training model bahkan sampai hal terkecil.
  14. Mampu mendorong peserta training agar kelak mengaplikasikan materi yang telah ia sampaikan dan berkomitmen dalam menjalankannya. Selain menjadi nilai manfaat bagi peserta. Secara tidak langsung peserta juga sudah melakukan promosi training. Agar hal ini terjadi, seorang trainer harus memberikan anjuran yang menggugah dan memikat bagi peserta.
  15. Mampu mengatasi kegagalan sebuah training. Tidak semua training berjalan mulus. Maka, saat yang terjadi adalah hal yang tidak diharapkan, seorang trainer harus mampu menganalisis ketidakberhasilan itu dan mencoba merencanakan sesuatu yang baru sebagai solusi.

STRATEGI PENYAMPAIAN MATERI PELATIHAN
Setelah mengetahui syarat untuk menjadi trainer yang handal, maka langkah berikutnya bagi seorang trainer adalah mengetahui dan memahami strategi penyampaian materi. Hal ini penting agar tidak terjadi “jet lag” yaitu istilah bagi trainer yang kehilangan orientasi pada saat memberikan materi. Adapun strategi penyampaian materi yang bisa diterapkan pada setiap pelatihan adalah sebagai berikut:

  1. Strategi urutan penyampaian simultan
    Jika trainer harus menyampaikan lebih dari satu materi pelatihan, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, kemudian diperdalam satu demi satu (metode global).
  1. Strategi urutan penyampaian suksesif
    Jika trainer harus menyampaikan materi pelatihan lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula.

SRATEGI MENYAMPAIKAN MATERI MENURUT JENIS MATERINYA
Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan sangat bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan strategi yang dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal. Pengembangannya, diserahkan pada kreativitas trainer untuk mendapatkan hasil pelatihan yang berkualitas, terarah dan terukur.

  1. Strategi Penyampaian Fakta
    Jika trainer harus menyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb). Langkah-langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis “Fakta”, sebagai berikut:
    (a) Sajikan fakta
    (b) Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal
    (c)  Berikan soal-soal mengingat kembali (review)
    (d) Berikan umpan balik
    (e) Berikan tes.
  1. Strategi penyampaian konsep
    Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta pelatihan paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah menyampaikan materi pelatihan jenis  ”Konsep” adalah sebagai berikut:
    (a) Sajikan Konsep
    (b) Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh)(c)  Berikan soal-soal latihan dan tugas
    (d) Berikan umpan balik
    (e) Berikan tes.
  1. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip
    Termasuk materi pelatihan  jenis prinsip adalah dalil, hukum (law),postulat, teorema, dsb. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis “prinsip”, yakni:
    (a) Berikan prinsip
    (b) Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip
    (c) Berikan umpan balik
    (d) Berikan tes.
  1. Strategi Penyampaian Prosedur
    Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta pealtihan dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pelatihan  jenis prosedur adalah langkah-langkah membuat proposal, pelaporan atau rekomendasi secara urut. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
  1. menyajikan prosedur
  2. pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana      cara melaksanakan prosedur
  3. memberikan latihan (praktik)
  4. memberikan umpanbalik
  5. memberikan tes.
  1. Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif)
    Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:  penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, dan perubahan pola pikir.

Referensi :
Strategi & Teknik Menyampaikan Materi Pelatihan

Perencanaan Pembangunan Desa Berbasis Ekologi

PENGANTAR

 Pengertian pembangunan mungkin menjadi hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin ilmu yang paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini serangkaian pemikiran tentang pembangunan telah ber­kembang, mulai dari perspektif sosiologi klasik (Durkheim, Weber, dan Marx), pandangan Marxis, modernisasi oleh Rostow, strukturalisme bersama modernisasi memperkaya ulasan pen­dahuluan pembangunan sosial, hingga pembangunan berkelan­jutan. Namun, ada tema-tema pokok yang menjadi pesan di dalamnya. Dalam hal ini, pembangunan dapat diartikan sebagai “suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk me­menuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi”(Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004). 

Bahwa pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangun­an. Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa pengembangan/per­luasan (expansion) atau peningkatan (improvement) dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.

Munculnya isu pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan seiring dengan gagasan pembangunan berkelanjutan. Munculnya strategi pembangunan  berkelanjutan (sustainable development), sekitar tahun 1970-an seiring dengan merebaknya masalah lingkungan. Hal ini ditandai dengan paradigma pembangunan ekonomi konvensional dengan mengejar pertumbuhan ekonomi semata, namun melahirkan kerusakan lingkungan dan sumber daya alam (SDA). Karena itu, pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang  berkelanjutan menjadi penting untuk dikaji. Deklarasi Stockholm 1972 menuju Rio de Janeiro 1992, sampai dengan Rio + 10 di Johanesburg 2002, menekankan perlunya koordinasi dan integrasi SDA, SDM, dan sumber daya buatan dalam setiap pembangunan nasional, dengan pendekatan kependudukan, pembangunan, dan lingkungan sampai dengan integrasi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan demikian, tiga pilar pembangunan berkelanjutan adalah masyarakat (society), lingkungan (environment), dan ekonomi (economy).

Dalam pembangunan berkelanjutan, SDA tidak hanya sekedar dieksploitasi untuk mengejar nilai ekonomis saja, melainkan harus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup. Artinya, dalam konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang berwawasan lingkungan, memerlukan upaya yang sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup termasuk sumber daya proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.

Pembangunan berwawasan lingkungan hidup sering pula dikemukakan sebagai pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, pentingnya pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Oleh karena itu, dalam pembangunan berwawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan, setidaknya terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni:
(1) pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana;
(2) pembangunan berkesinambungan sepanjang masa; dan
(3) peningkatan kualitas hidup generasi.

Perhatian yang lebih besar terhadap lingkungan hidup sebenarnya adalah bagian dari perjalanan ke arah pembangunan yang berkualitas, suatu pembangunan yang tidak hanya mengejar jumlah tetapi menuju mutu. Yang terpenting bukan hanya seberapa besar kemakmuran material bisa dicapai tetapi bagaimana mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Hanya dalam iklim pembangunan yang demikianlah kelestarian dan pemeliharaan lingkungan hidup mampu menjelma dalam kemauan politik yang kuat dan didukung oleh semua kalangan utamanya para pelaku pembangunan di desa.

Di Indonesia, seiring dengan perkembangan dan perubahan tatanan kehidupan bangsa yang sesuai dengan tuntutan rakyat, mengharuskan pemerintah melakukan perubahan dan penyesuaian kebijaksanaan, salah satunya kebijaksanaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kebijaksanaan itu mengarahkan kepada perkembangan yang berkelanjutan, mewujudkan integritas dan sinergi dalam pelaksanaan pembangunan pada kelestarian ekologi, ekonomi, sosial dan budaya dengan mengintegralkan semua komponen. Aktivitas masyarakat sendiri menjadi salah satu faktor yang signifikan yang mempengaruhi keberlangsungan hidup suatu ekosistem. Oleh karena itu sering dikatakan  bahwa manusia (penduduk) memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, sebagai pendukung pendorong pembangunan (dalam artian insan lingkungan) yang bertindak memperhatikan lingkungan dan keberlangsungan hidupnya, dan di lain sisi, manusia ialah beban dari  pembangunan itu sendiri. Artinya, jumlah penduduk yang besar semakin membebani pembangunan khususnya pembangunan lingkungan hidup. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya-upaya pemberdayaan yang berbasis pada masyarakat di suatu daerah secara sistematis dan terencana dengan baik dalam rangka meningkatkan kemandirian dan kemitraan di dalam masyarakat itu sendiri; menumbuhkembangkan kemampuan dalam lingkungan masyarakat di sekitar; meningkatkan daya tanggap masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial terhadap lingkungan mereka; dan memberikan kontribusi saran dan pendapat juga informasi lingkungan yang bermanfaat  bagi kelestarian lingkungan hidup setempat. Pentingnya keterlibatan masyarakat bukan sekadar objek, melainkan sekaligus subjek dalam mencapai kelestarian lingkungan hidup. Artinya, warga desa sebagai bagian dari masyarakat berhak untuk berperan serta dan ambil bagian dalam pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana tercermin dalam Pasal 5, ayat 1, 2 dan 3, UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan.

Keterlibatan warga desa sebagai kesatuan masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup sejalan dengan  pendekatan dalam pembangunan dengan pendekatan pembangunan yang berpusat pada manusia (people-centered development).

Pendekatan ini telah mengundang kebangkitan kembali dengan semangat baru yang lebih bersifat partisan pembangunan masyarakat. Pendekatan pembangunan seperti ini merupakan suatu elemen dasar dari suatu strategi  pembangunan yang lebih luas, bertujuan untuk mencapai suatu transformasi berdasarkan nilai-nilai yang berpusat pada manusia dan potensi-potensi yang ditawarkan oleh teknologi maju berdasarkan informasi. Pembangunan yang berpusat pada manusia, memandang manusia sebagai warga masyarakat, sebagai fokus utama maupun sumber utama  pembangunan, dan nampaknya dapat dipandang sebagai suatu strategi alternatif pembangunan masyarakat yang menjamin komplementaritas dengan pembangunan bidang-bidang lain, khususnya bidang ekonomi. Paradigma ini memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek tetapi sebagai subyek yang menentukan tujuan yang hendak dicapai, menguasai sumber sumber, mengarahkan proses yang menentukan hidup dan perilaku mereka. Paradigma ini adalah suatu perspektif atau pandangan environment development dalam konteks pemberdayaan masyarakat yang memberikan ruang gerak yang sangat penting sebagai kekuatan di luar Negara, dalam hal ini masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk proaktif dalam proses pembangunan lingkungan hidup. Peran masyarakat baik secara individu maupun kelompok perlu diberdayakan. Adapun organisasi masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah organisasi yang berpotensi sebagai wadah informasi dan program pembangunan yang berwawasan lingkungan, yaitu kelompok tani, LSM yang ada, satuan satuan masyarakat adat, dan kelompok masyarakat konservasi. Hal ini dikarenakan organisasi tersebut selain membantu pemerintah, dapat pula berfungsi sebagai agen pembaharu dalam pemberdayaan masyarakat. Dalam usaha pemberian peran secara nyata oleh pemerintah terhadap masyarakat dan keterlibatannya terhadap proses pembangunan lingkungan dapat diwujudkan dengan cara dilibatkannya masyarakat mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan hingga evaluasi pembangunan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mempunyai kepedulian dan rasa memiliki atas setiap program pembangunan terutama yang berorientasi terhadap pembangunan ekonomi masyarakat dan lingkungan. Maksud yang lain adalah agar ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dapat dikurangi karena tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat merupakan faktor yang sangat penting dalam menjamin kesuksesan, kesinambungan dan pengembangan program yang dibuat oleh pemerintah. Dalam kaitan ini peran masyarakat secara individu dan kelompok adalah perpanjangan tangan pemerintah sebagai agen pembaharu, yang pada akhirnya melalui kelompok inilah dimulai perubahan budaya dan perilaku masyarakat dari yang acuh tak acuh menjadi masyarakat yang peduli dan sadar lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut, pembangunan berwawasan lingkungan, mau tidak mau, adalah merupakan keharusan bagi pemerintah ataupun masyarakat.

Kita bisa melihat bentuk nyata pada Program Menabung Pohon oleh Direktorat Lingkungan Pertamina Foundation yang ikut berperan aktif dalam menciptakan pembangunan berwawasan lingkungan, khususnya di wilayah binaannya. Pentingnya peran tersebut sejalan dengan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di desa, yang sebagian besar memanfaatkan dan menggantungkan pada SDA yang tersedia. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi SDA sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, sekaligus sumber kehidupan masyarakat, Direktorat Lingkungan Pertamina Foundation perlu membangun komitmen bersama untuk menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan agar sesuai dengan visi, misi dan tata nilai pada Pertamina Foundation.

Ada beberapa hal yang ingin dicapai dalam Program Menabung Pohon, selain meningkatkan oksigen (O2), keberlangsungan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan juga mendorong meningkatnya pembangunan desa yang meliputi :

  • Perekonomian Desa
    Meningkatkan penghidupan masyarakat dan pembangunan sarana ekonomi berbasis potensi lokal, pengembangan usaha mikro, kelembagaan ekonomi dikaitkan dengan sumber daya manusia.
  • Sosial Budaya Desa
    Pembangunan pendidikan, sosial, dan penguatan adat istiadat dalam ragka pengembangan partisipasi masyarakat.
  • Mitigasi bencana
    Penataan ruang desa dengan fungsi khusus yaitu mitigasi bencana berupa pembangunan daerah rawan bencana dan tempat untuk menampung pengungsi ketika terjadi bencana.
  • Lingkungan hidup
    Penataan lingkungan yang menjaga keseimbangan holistik antara kawasan budidaya dengan kawasan lindung dalam upaya menjaga pelestarian alam sebagai penghidupan sebagian besar masyarakat. Penataan dilakukan juga terhadap pengelolaan di sekitar sektor pertanian termasuk perkebunan, dan kehutanan  untuk meminimalisasi ketidakseimbangan desa.

PEMBANGUNAN DESA

Pembangunan pedesaan dipandang sebagai suatu proses alamiah yang bertumpu pada potensi yang dimiliki dan kemampuan masyarakat desa itu sendiri. Pendekatan ini meminimalkan campur tangan dari luar sehingga perubahan yang diharapkan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang di sisi yang lain memandang bahwa pembangunan pedesaan sebagai sutu interaksi antar potensi yang dimiliki oleh masyarakat desa dan dorongan dari luar untuk mempercepat pembangunan pedesaan.

Pembangunan desa adalah proses kegiatan pembangunan yang berlangsung di desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat. Menurut peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 43 Tahun 214 tentang Desa sebagaimana dimaksud pada pasal 114 ayat (1) Perencanaan pembangunan Desa disusun berdasarkan hasil kesepakatan dalam musyawarah Desa, bahwa perencanaan pembangunan desa disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya dan menurut pasal 116 ayat (2) Musyawarah perencanaan pembangunan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti oleh Badan Permusyawaratan Desa dan unsur masyarakat Desa, bahwa dalam menyusun perencanaan pembangunan desa wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa.

Tujuan Perencanaan Pembangunan sebagai berikut:

  • Mengkoordinasikan antar pelaku pembangunan;
  • Menjamin sinkronisasi dan sinergi dengan pelaksanaan Pembangunan Daerah;
  • Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara Perencanaan dan Penganggaran Pelaksanaan dan Pengawasan;
  • Mengoptimalkan partisipasi masyarakat;
  • Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya desa secara efisien dan efektif berkeadilan dan berkelanjutan.

Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-pedoman dan ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan pelaksanaan(memanage) pembangunan desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat, sehingga dapat mencapai kesejahteraan bagi masyarakat, antara lain :

  • Produktifitas kegiatan ekonomi seperti pertanian dan peternakan mengalami peningkatan;
  • Proses produksi sedang mengalami perubahan cukup berarti melalui adaptasi teknologi;
  • Komersialisasi sudah cukup tinggi.
    Pasar digunakan untuk menjual hasil dan membeli input produksi.
  • Penggunaan tenaga kerja luar dan adanya pasar upah tenaga kerja makin berkembang;
  • Pemanfaatan teknologi baru;
  • Produksi berorientasi pasar.
    Sebagian besar dijual untuk pasar sehingga jenis komoditas yang diproduksi selalu disesuikan dengan keadaan harga pasar.

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DESA

Bertolak dari uraian di atas Pemerintah menetapkan berbagai kebijakan untuk memberdayakan untuk memberdayakan dan memantapkan serta menguatkan Pemerintahan Desa. Kebijakan dimaksud antara lain:

  • Pemantapan kerangka aturan;
  • Penataan kewenangan dan standar pelayanan minimal Desa;
  • Pemantapan kelembagaan;
  • Pemantapan administrasi dan keuangan Desa;
  • Peningkatan sumber daya manusia penyelenggara pemerintahan desa dan;
  • peningkatan kesejahteraan para penyelenggara pemerintahan desa.

Untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana diuraikan di atas, program prioritas yang hendaknya sangat penting dilakukan meliputi :

  • Pemantapan kerangka aturan.
    Lingkup kegiatannya yaitu mempercepat penyelesaian Peraturan Desa, Peraturan Kepala Desa dan Tata Tertib Badan Permusyawaratan Desa yang sesuai dengan prinsip keanekaragaman, demokratisasi, otonomi serta partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
  • Penataan Organisasi dan kewenangan.
    Lingkup kegiatannya yaitu penataan Organisasi Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Lembaga Kemasyarakatan Desa beserta kewenangan yang harus dimilikinya.
  • Pemantapan sumber pendapatan dan kekayaan desa.
    Lingkup kegiatannya yaitu penataan manajemen perimbangan keuangan antara Kabupaten/Kota dengan Desa terutama mengenai alokasi dana desa.

Bahwa berbicara mengenai pembangunan artinya kita berbicara mengenai perubahan, kemajuan masyarakat, kemajuan teknologi, perluasan wawasan dan pola pikir masyarakat, perilaku dan gaya hidup masyarakat. Dan semua itu tidak lepas dari yang namanya proses perluasan, proses peningkatan, baik itu untuk kepentingan masyarakat maupun diri sendiri.

 

Referensi :
1. https://facilitatortrainingpf.wordpress.com/2015/04/22/perencanaan-pembangunan-desa-berbasis-lingkungan/
2. Frank, Andre Gunder. (1984). “Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi”. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.
3. Galtung, Johan. (1980). “Why the Concern with Ways of Life”, GDIP Project, Oslo: United Nation University.

Jalan Pedesaan Sebagai Dasar Penyediaan Ruang Publik Yang Nyaman

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, baik yang berada pada permukaan tanah maupun di atas atau di bawah permukaan tanah dan/atau air. Pembangunan jalan sendiri saat inipun belum sepenuhnya merata di seluruh pelosok daerah di indonesia.

Sering dong sekarang ini hampir setiap hari di berbagai media kita dengar keluhan seperti, “Aduh, ini pemerintah kerjaannya ngapain aja sih. Jalan kok sempit-sempit, sering rusak, mana belum diaspal lagi”

Pemerintah memang yang paling berandil besar terhadap kondisi tersebut, tapi jangan lupakan juga bahwa ternyata peran kita sebagai masyarakat tidak kalah penting. Dalam bentuk apa?

Bisa dalam bentuk mendukung keamanan ketika proyek pengerjaan jalan dilakukan, atau kooperatif ketika terjadi pembebasan lahan. Semua memang bisa dinegosiasikan, tapi jangan egois dan memperhatikan kepentingan individu semata.

Trend pembangunan jalan pun terus meningkat, jika sebelum reformasi tercatat jalan yang belum diaspal lebih banyak daripada yang telah diaspal, ternyata kini sudah berubah. Dari data yang diambil dari BPS, ternyata jalan yang diaspal untuk seluruh wilayah Indonesia totalnya sepanjang 295.968 km. Jauh lebih panjang dibandingkan ruas jalan yang belum terkena aspal yaitu 221.695 km.

Namun demikian, data di atas wajib menjadi perhatian kita bersama, agar kondisinya merata di seluruh Indonesia. Coba deh kita lihat fakta di lapangan, kenyataannya jalan yang masih jauh dari syarat layak terkumpul di bagian timur Indonesia, yaitu di daerah kota Jayapura (Provinsi Papua) dan kota Sorong (Provinsi Papua Barat). Bisa dibilang ketidaklayakan jalan inilah yang menjadi biang keladi tingginya harga barang di kawasan bumi cendrawasih.

Jalan Menuju Perdesaan

Nah, sekarang kita ngobrolin kondisi jalan di desa-desa yuk. Sebenarnya siapa sih yang bertanggung jawab dengan pembangunan di desa?

Dari informasi yang diambil dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pembinaannya sebenarnya ada di tangan Bupati. Tapi sekarang dengan adanya dana desa yang dikucurkan pemerintah dari APBN, maka Kepala Desa diperbolehkan mengajukan anggaran yang dimuat dalam APBDes untuk membangun jalan di perdesaan.

Meski penuh dengan pro kontra kehadiran dana desa, efek positifnya cukup terasa. Di beberapa daerah di Jawa, sebut saja ngawi yang minggu lalu saya kunjungi, jalan menuju pedusunannya sudah diperbaiki dengan paving blok.

Jelas belum merata, karena dana desa baru memasuki tahun kedua. Kepala Desa di seluruh Indonesia pun masih berproses dalam cara menggunakannya, prinsipnya sepanjang dana desa digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, sangat diperbolehkan bahkan didukung.

Apabila kita ngomongin masalah infrastruktur jalan yang sangat klasik ini, maka yang pertama disentuh tidak akan jauh-jauh dari manusianya. Bukan hanya perbaikan dari sisi aparat yang memang mutlak dilakukan, tetapi juga dari warga sekitar.

Pemerintah wajib turun hingga ke lapisan masyarakat paling dasar, beri mereka pengertian apa manfaat yang diperoleh jika jalan itu dibangun. Misalnya, bisa menambah penghasilan warga karena dapat berjualan, dan lain sebagainya.

country-lane-2089645_1280

“Tidak semua lokasi bisa menggunakan feasibility study ketika membangun jalan. Kalau itu dilakukan, kasihan daerah-daerah yang tidak feasible”

Sedikit banyak saya setuju dengan peryataan tersebut, karena pada kenyataannya konsep feasibility study akan susah diterapkan di daerah terpencil seperti di desa. Katakanlah di wilayah papua yang saat ini nilai ekonominya rendah. Jika menggunakan feasibility study, ada kemungkinan pembangunan jalan akan mangkrak karena tidak feasible.

Ingat bahwa yang paling utama adalah terpenuhinya pelayanan publik. Sepanjang itu terpenuhi, maka pembangunan di tempat yang tidak feasible secara ekonomi pun seharusnya tidak masalah.

Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan untuk peningkatan berbagai akses kepentingan. Jalan desa seyogyanya bisa mengakomodir sebuah ruang manouver kendaraan saat membelok di tikungan atau persimpangan, sehingga dasar penyediaan ruang publik yang nyaman dan aman bagi kebutuhan masyarakat perdesaan bisa terpenuhi dengan baik.

Gerakan Sedekah Pengetahuan

Peranan kaum intelektual dalam pemberdayaan desa sangatlah penting. Ilmu pengetahuan dan teknologi dibutuhkan dalam pengelolaan sumberdaya desa. Karena itu, kita butuh lembaga yang mampu menjembatani hubungan kuat kampus-kampung untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di perdesaan.

Kolaborasi kerja kampus-kampung ada dalam gerakan Barikade (Bengkel Rekayasa Industri Skala Desa). Gerakan ini dipelopori oleh Empat Sekawan, yaitu Yossy Suparyo (Cilacap), Arief Setyabudi (Bekasi), Sutardjo Ps (Bandung), dan Dodiet Prasetyo (Banyumas). Empat tukang insinyur itu menggerakkan Barikade bermodal sedekah pengetahuan.

Apa itu sedekah pengetahuan? Barikade memulai gerakan sedekah dengan berbagi gagasan dan pengalaman. Barikade mengembangkan media online (http://barikade.desamembangun.id) untuk menyebarluaskan artikel dan hasil kajian. Singkatnya, pengetahuan tak lagi berada dalam benak mereka (tacit knowledge), tapi pengetahuan itu sudah mereka tuangkan dalam pengetahuan yang sistematis (explicit knowledge).

Selain itu, Barikade mendorong proses alih teknologi melalui program pengembangan kapasitas pelaku industri desa. Ambil contoh, mereka melatih para pengelola bengkel las yang tersebar di pojok-pojok kampung agar mampu membaca gambar teknik.Gambar teknik merupakan media komunikasi antara rekayasawan (engineer) dan praktisi manufaktur yang akan memproduksi berbagai teknologi/mesin cukup di desanya.

Belakangan ini, Barikade mulai merambah ada pengorganisasian beragam gagasan dan praktik baik (best practice) pengembangan teknologi tepat guna. Langkah ini bertujuan untuk memobilisasi sumberdaya di kawasan perdesaan. Strategi ini akan mendorong lahirnya industri skala desa, terutama industri yang bergerak pada pengolahan bahan baku. Dengan kata lain, desa akan menjadi penggerak ekonomi di Indonesia.

Kemunculan industri di desa akan memicu efek domino, seperti peningkatan pendapatan, perbaikan pelayanan publik, akses ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat desa. Mari bersedekah pengetahuan!

Inovasi Teknologi Harus Makin Ramah Pada Kaum Difabel

Sumber foto: merdeka.com
Sumber foto: merdeka.com

Inovasi teknologi semakin perhatikan unsur keunikan hubungan teknologi dan manusia. Teknologi yang dirancang untuk menutup kelemahan manusia akibat probem disabilitas semakin berkembang. Bahkan, keterlibatan kaum difabel sebagai rekayasawan semakin meningkat.

Pengembangan tongkat dan kursi roda sangat membantu kaum disabilitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Inovasi sepeda motor roda tiga dan mesin matic juga mendukung mobilitas kaum disabilitas dari satu tempat ke tempat lainnya.

Di dunia komputer, aplikasi Orca membantu kaum tuna netra untuk mengakses informasi dalam bentuk suara. Orca membantu kaum tuna netra dan low vision untuk menggunakan komputer. Aplikasi Orca dilengkapi dengan kemampuan untuk melafalkan teks dan braille display.

Orca bisa diunduh secara gratis dan memiliki dukungan beragam bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Keterlibatan Engineer Sipil di Transportasi

Peran strategis Insinyur Sipil dalam Dunia Transportasi
Peran strategis Insinyur Sipil dalam Dunia Transportasi

Secara historis, keterlibatan utama para insinyur sipil dalam transportasi telah terlihat jelas, terutama dalam penyediaan fasilitas fisik di masa kini. Para insinyur memikirkan pelbagai strategi dan manajemen operasional dalam dunia transportasi. Sebagian besar insinyur sipil yang bekerja di bidang transportasi dipekerjakan oleh berbagai organisasi yang berorientasi pada fasilitas publik.

Selain itu, insinyur sipil saat ini juga telah banyak dipekerjakan pada berbagai manajemen perusahaan perkeretaapian, yang mana menyediakan sarana dan fasilitas fisik yang mereka sediakan sendiri dan operator angkutan perkotaan, dimana koneksi ke teknik sipil telah melalui kedua kegiatan perencanaan transportasi dan desain operasi strateginya.

Sebagian besar kegiatan teknik sipil yang berkaitan dengan penyediaan sarana dan fasilitas fisik apa yang disebut teknik sipil fisik. Ini meliputi desain, konstruksi, dan pemeliharaan sebuah sarana transportasi yang tetap dengan melibatkan spektrum penuh spesialisasi teknik sipil. Proyek utama jalan raya, misalnya, akan melibatkan tidak hanya ukuran dan desain geometris dari jalan saja, yang biasanya dianggap sebagai bagian teknik transportasi, tetapi juga desain dan konstruksi jembatan dan struktur lainnya, yang membutuhkan teknik struktural; desain drainase, yang membutuhkan teknik hidrolik dan hidrologi, pertimbangan pekerjaan tanah pemadatan dan stabilitas lereng, yang membutuhkan geoteknik, manajemen Konstruksi, dan survei.

Kompleksitas yang sama dan luasnya keterlibatan teknik sipil juga mencirikhaskan pada proyek transportasi utama lainnya, seperti pembangunan bandara atau kereta api perkotaan serta sistem angkutan cepat.

(McGraw-Hill Series in Transportation)

Bahasaku Matematika, Hurufku Geometri

Matematika merupakan bahasa simbol yang berlaku secara universal. Konsep matematika secara universal dimengerti oleh manusia di belahan dunia manapun, bahkan sudah terdapat dalam pikiran setiap manusia.

Ada adagium, mempelajari matematika seperti mempelajari kehidupan. Matematika memiliki efek candu, mereka tak pernah menemukan kepuasan hingga hanya “tak terhingga” yang bisa menghentikan langkah. Hampir semua bidang bisa dilogika dengan matematika.

Ergonomis Pelajari Hubungan Manusia-Mesin untuk Hasilkan Kinerja Optimal

Ilmu ergonomi menjadi mata kuliah wajib dalam studi perancangan mesin. Ergonomi mempelajari informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk menciptakan sistem kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien. Lanjutkan membaca “Ergonomis Pelajari Hubungan Manusia-Mesin untuk Hasilkan Kinerja Optimal”

Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus

Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)
Yossy Suparyo (Baju Batik) dan Arief Setiabudi (Baju Putih)

Judul ini saya ambil dari quote bijak Kang Arief Setiabudi dalam sebuah perbincangan ringan di serambi rumahnya, di bilangan Kota Bekasi. Sebuah pilihan sulit, terlebih bagi masyarakat yang hidup di tengah gemerlap kemudahan dan rayuan produk manufaktur impor yang terpapang di gerai pamer toko dan pasar. Lanjutkan membaca “Teknologi Canggih Itu Penting, Kemandirian Teknologi Itu Harus”